
Hybrid Vs Konvensional, Sama-Sama Berisiko Saat Banjir, Namun Mobil Konvensional Lebih Rentan Mengalami Water Hammer
Hybrid Vs Konvensional, Sama-Sama Berisiko Saat Banjir, Namun Mobil Konvensional Lebih Rentan Mengalami Water Hammer. Musim hujan yang datang bersamaan dengan intensitas banjir di sejumlah wilayah Indonesia membuat banyak pemilik kendaraan bertanya-tanya: mobil hybrid lebih berisiko atau justru lebih aman dibanding mobil konvensional saat menerjang banjir? Kekhawatiran ini muncul karena kendaraan hybrid dibekali baterai tegangan tinggi, motor listrik, serta rangkaian kelistrikan yang dianggap lebih kompleks dibanding mobil bermesin bensin biasa.
Namun para ahli otomotif menegaskan, baik mobil hybrid maupun konvensional sama-sama memiliki risiko tinggi ketika melewati genangan, terutama jika ketinggian air sudah melewati batas aman. Yang membedakan bukan hanya jenis mesin, tetapi juga posisi komponen, standar keamanan pabrikan, serta cara pengemudi menghadapi kondisi banjir.
Risiko Mobil Konvensional Saat Banjir
Mobil konvensional yang menggunakan mesin pembakaran internal (ICE) umumnya rentan mengalami water hammer atau “mesin kemasukan air”. Kondisi ini terjadi ketika air masuk melalui saluran udara (air intake) dan terhisap ke ruang bakar. Jika sudah demikian, piston dapat berhenti mendadak dan berisiko menyebabkan kerusakan berat pada komponen mesin. Dalam banyak kasus, water hammer membuat mesin harus di bongkar total dan biaya perbaikannya sangat besar. Resiko Mobil Konvensional Saat Banjir.
Selain mesin, banjir juga berbahaya bagi sistem kelistrikan mobil konvensional. ECU (Electronic Control Unit), alternator, sensor, serta modul listrik lainnya dapat rusak jika terendam air. Genangan juga dapat membawa lumpur yang menempel dan memicu korosi, sehingga kerusakan bisa muncul belakangan meski mobil terlihat normal setelah banjir surut.
Bagaimana Dengan Mobil Hybrid?
Bagaimana Dengan Mobil Hybird? Mobil hybrid memang memiliki sistem tambahan berupa baterai tegangan tinggi dan motor listrik. Ini membuat banyak orang mengira hybrid pasti lebih berbahaya ketika banjir. Padahal, produsen kendaraan hybrid umumnya sudah merancang baterai dan sistem tegangan tinggi dengan perlindungan khusus, seperti sealing (pelindung rapat), rumah baterai tertutup, dan jalur kelistrikan dengan standar keamanan tinggi.
Pada mobil hybrid, posisi baterai sering di letakkan di area yang relatif aman, misalnya di bawah jok belakang atau di bagian tengah lantai kendaraan. Tujuannya bukan hanya menjaga keseimbangan bobot, tetapi juga mengurangi risiko terkena benturan dan paparan air berlebih. Meski begitu, bukan berarti mobil hybrid kebal banjir.
Jika air banjir cukup tinggi hingga mencapai area baterai atau komponen kelistrikan utama, maka risiko korsleting tetap dapat terjadi. Selain itu, jika mobil hybrid terendam lama, air dapat masuk ke konektor atau modul listrik tertentu yang sensitif.
Mana yang Lebih Berisiko?
Secara umum, kedua jenis mobil sama-sama berisiko ketika menghadapi banjir. Mobil konvensional rawan rusak parah pada mesin karena water hammer, sementara mobil hybrid berisiko pada komponen tegangan tinggi jika terendam melebihi ambang aman.
Namun dari beberapa pengalaman teknis, mobil konvensional sering lebih cepat mengalami kerusakan fatal ketika air masuk ke mesin. Pada hybrid, sistem pengamanan biasanya bisa memutus aliran listrik otomatis jika terjadi gangguan ekstrem, meskipun kerusakan komponen tetap mungkin terjadi dan biaya perbaikannya bisa mahal.
Dengan kata lain, mobil hybrid bukan otomatis “lebih berbahaya”, tetapi dampak kerusakannya bisa lebih kompleks jika banjir sudah parah.
Tips Aman Menghadapi Banjir
Pakar otomotif mengingatkan, cara paling aman adalah tidak memaksakan kendaraan melewati banjir. Jika terpaksa, pastikan air tidak melebihi setengah ban atau lebih rendah dari intake, jalankan kendaraan perlahan dengan putaran mesin stabil, dan hindari berhenti di tengah genangan. Tips Aman Menghadapi Banjir.
Untuk mobil hybrid, pemilik di sarankan tidak sembarangan menyentuh bagian kelistrikan setelah banjir. Jika mobil mati atau muncul indikator gangguan, segera hubungi bengkel resmi untuk pengecekan menyeluruh.
Kesimpulannya, saat banjir, pertanyaan “hybrid atau konvensional yang lebih aman” bukan yang paling penting. Yang terpenting adalah memastikan ketinggian air aman dan pengemudi tidak mengambil risiko yang dapat merusak kendaraan maupun membahayakan keselamatan.