Durasi pertandingan final pertandingan ini yang hanya berlangsung selama 57 menit. Terlebih hal satu ini menjadi salah satu indikator paling mencolok dari dominasi Iga Swiatek atas Amanda Anisimova. Dalam dunia tenis profesional, terutama di ajang Grand Slam. Serta yang merupakan panggung tertinggi, durasi di bawah satu jam sangat jarang terjadi. Apalagi dalam partai puncak. Ini mencerminkan betapa cepat. Dan juga efisiennya Swiatek mengeksekusi strategi permainan sejak awal hingga akhir laga. Dengan tempo permainan yang agresif namun tetap rapi. Kemudian juga ia tidak memberi waktu bagi lawannya untuk mengatur ritme. Maupun hanya sekadar membangun kepercayaan diri. Setiap servis, reli, hingga pukulan penutup di mainkan dengan intensitas tinggi. Serta juga dengan beberapa akurasi luar biasa. Anisimova nyaris tak punya kesempatan untuk melawan secara taktis.
Karena ia sangat dan sudah menguasai penuh alur pertandingan dalam waktu yang sangat singkat. Durasi 57 menit ini juga menandai salah satu final tercepat dalam sejarah Wimbledon modern. Terlebih hal satu ini yang seakan mempertegas skor telak 6–0, 6–0 yang ia raih. Tidak hanya membuktikan efisiensi pukulan. Dan juga minimnya unforced errors dari dirinya. Akan tetapi juga menunjukkan keunggulan stamina, mentalitas. Serta dengan persiapan strategi yang matang dan juga ia perhitungkan sebelum pertandingan berlangsung. Dalam pertandingan secepat itu, sangat sedikit momen yang bisa di manfaatkan lawan untuk bangkit. Kemudian juga sosok satu ini memastikan tidak ada celah sama sekali. Durasi yang singkat ini menjadi penanda kuat bahwa ia benar-benar mendominasi final secara total dari awal hingga akhir. Jadi dengan durasi yang terbilang singkat, ia sangat memaksimalkan waktu yang ia miliki. Karena segala strategi sudah ia siapkan begitu matang tentunya.
Mahkota The Championships Milik Swiatek: Juara Mutlak Di Lapangan Hijau
Selain itu, masih ada fakta terkait Mahkota The Championships Milik Swiatek: Juara Mutlak Di Lapangan Hijau. Dan fakta lainnya adalah:
Drop Poin: Hanya 24 Poin
Jumlah drop poin hanya 24 poin yang di raih Amanda Anisimova saat menghadapi Iga Swiatek di final Wimbledon 2025. Terlebih yang menjadi cerminan paling jelas dari ketimpangan kualitas permainan. Tentunya antara kedua petenis dalam laga tersebut. Dalam pertandingan yang berlangsung dua set dengan skor mutlak 6–0, 6–0. Dan ua memenangkan 55 dari total 79 poin yang di mainkan. Sementara Anisimova hanya mampu mencuri 24 poin sepanjang pertandingan. Serta dengan jumlah yang tergolong sangat rendah untuk standar Grand Slam. apalagi di partai final. Poin-poin yang hilang ini sebagian besar datang bukan karena tekanan balik dari lawan. Namun melainkan karena ia sendiri memilih strategi permainan agresif. Tentunya dengan presisi tinggi yang meminimalkan kesalahan. Ia tampil dominan sejak awal, dengan servis kuat dan reli pendek yang memaksa Anisimova. Serta yang berada dalam posisi bertahan terus-menerus.
Dengan kontrol tempo yang konsisten dan variasi pukulan yang efektif. Terlebih ia mampu merebut poin secara cepat dan efisien. Kemudian tanpa memberi ruang bagi lawannya untuk membalikkan keadaan. Fakta bahwa Anisimova hanya mencetak 24 poin juga mencerminkan betapa ia bermain hampir tanpa celah. Namun dia nyaris tak pernah goyah dalam reli panjang. Terlebih yang sukses mempertahankan servisnya dengan mudah. Dan juga seringkali mematahkan servis lawan dalam waktu singkat. Bahkan dalam beberapa gim, Anisimova tidak berhasil mencapai skor lebih dari satu poin. Secara psikologis, jumlah poin yang sangat sedikit ini juga memperlihatkan betapa sulitnya lawan. Terlebihnya untuk membangun momentum ketika seluruh aspek pertandingan di kuasai Swiatek sepenuhnya. Dengan drop poin yang sangat minim, kemenangan ini bukan hanya dominan. Akan tetapi juga efisien dan klinis. Ia menunjukkan performa nyaris sempurna di atas lapangan rumput.
Mahkota The Championships Milik Swiatek: Juara Mutlak Di Lapangan Hijau Yang Mengesankan
Selanjutnya juga masih ada fakta Mahkota The Championships Milik Swiatek: Juara Mutlak Di Lapangan Hijau Yang Mengesankan. Dan fakta lainnya adalah:
Kemenangan Ke 6 Grand Slam
Kemenangannya dalam pertandingan ini menandai gelar Grand Slam keenam dalam kariernya. Terlebih sebuah pencapaian luar biasa yang menegaskan posisinya. Tentunya sebagai salah satu petenis wanita terbaik di era modern. Sebelumnya, Swiatek telah mengoleksi empat gelar French Open (2020, 2022, 2023, dan 2024). Serta satu gelar US Open (2022). Dengan keberhasilan di Wimbledon, ia kini telah meraih gelar di tiga dari empat turnamen Grand Slam utama. Dan juga menjadikannya nyaris mencapai career Grand Slam. Tepatnya yang tinggal Australia Open yang belum ia menangkan. Gelar keenam ini memiliki makna yang lebih dalam. Karena sebelumnya ia di kenal sebagai spesialis lapangan tanah liat, terutama di Roland Garros.
Namun dengan tampil dominan di lapangan rumput. Serta yang selama ini di anggap sebagai permukaan yang paling menantang baginya. Dan ia membuktikan bahwa ia bukan hanya petenis satu dimensi. Namun melainkan seorang juara yang serba bisa di berbagai kondisi. Perjalanan menuju gelar keenam ini juga penuh tantangan. Sebelum Wimbledon 2025, Swiatek mengalami masa tanpa gelar yang cukup panjang. Kemudian juga sempat turun peringkat. Namun, ia bangkit dengan mentalitas juara. Serta memperbaiki aspek teknis seperti footwork dan servis bersama pelatih barunya. Dan tampil jauh lebih tajam di turnamen ini. Kemenangan di Wimbledon dengan skor telak 6–0, 6–0 semakin memperkuat narasi bahwa gelar keenam ini. Karena bukan hanya pencapaian angka. Akan tetapi juga penanda transformasi dan kematangan dalam kariernya.
Jadi itu dia fakta Swiatek yang berhasil rebut gelar dominasi penuh dan jadi Raja Baru Wimbledon.